Menghadapi Duka
Dari pengalaman pribadi. Hal-hal yang nggak ditulis dalam buku manual hidup
13 bulan yang lalu, saya kehilangan anak laki-laki saya.
Kejadiannya tiba-tiba, nggak ada peringatan, nggak ada ancang-ancang.
Saya harus menempuh perjalanan dari UK ke Indonesia buat mengantar jasad anak saya ke tempat peristirahatan terakhirnya di tanah air.
Dan sejak itu… pandangan saya soal hidup berubah total.
Saya ini orang yang biasa bikin rencana. Career planning, networking, upgrade skill… semua saya jalani dengan disiplin.
Tapi kehilangan?
Nggak ada manualnya.
Saya masih ingat rasa kosong di dada, penolakan, dan malam-malam yang terasa sangat panjang. Di umur 30-an, saya baru sadar kalau nggak semua hal bisa direncanakan. Dan nggak semua luka bisa disembuhkan.
Alhamdulillah, tempat saya bekerja (Airbus) sangat supportif. Mereka kasih saya full cuti selama 12 bulan. Bahkan proses pemulangan jenazah anak saya difasilitasi oleh International SOS yang dibantu oleh perusahaan.
Tapi sebanyak apapun support eksternal… ternyata nggak cukup kalau saya nggak tahu cara menghadapinya secara internal.
Lalu saya terpaksa belajar… tentang memproses duka.
Kita tumbuh di era media sosial. Di mana semua orang bisa terlihat “baik-baik saja.” Tapi nyatanya, banyak dari kita memproses kehilangan dengan cara yang berbeda. Cara yang lebih manusiawi.
Ada beberapa hal yang bisa saya bagikan tentang menghadapi kehilangan.
✦ Duka itu bukan proses linear
Pernah denger model 5 Tahap Duka ala Kübler-Ross?
Realitanya, ga seakurat itu. Kita sebagai manusia bisa balik lagi dari “acceptance” ke “anger” kapan aja.
Dan itu normal.
✦ Mencari makna, bukan sekedar penerimaan
Ada tambahan tahap ke-6 dalam proses berduka: Finding Meaning.
Bukan cuma menerima kepergian orang tercinta.
Kita bertanya, “Apa arti dari semua ini dalam hidup saya?”
Dan pertanyaan ini belum tentu langsung ada jawabnya.
Sampai sekarang pun… saya sendiri belum dapat jawabannya.
✦ Self-compassion jadi lebih penting dari motivasi
“Semangat”, “Semangat”, “Semangat!”
Kata-kata itu nggak ada maknanya di depan orang yang lagi berduka. Kadang malah jadi terdengar menyebalkan.
Dibanding itu, saya justru lebih menemukan ketenangan di kata-kata “nggak apa-apa kalau belum kuat. Nggak apa-apa kalau belum sembuh.”
Yang paling saya sadari…
Saya nggak akan pernah bisa “move on” dari kehilangan seorang anak.
Tapi saya bisa mencoba “move forward” dengan membawa rasa cinta itu bersama saya, kemanapun langkah saya ke depannya.
Dan mungkin, itu inti dari semua ini:
👉 Bukan melupakan
👉 Tapi hidup berdampingan dengan kehilangan
👉 Sambil memaknai hidup yang terus berjalan
Tulisan kali ini agak berbeda dengan topik2 yang biasa saya bahas. Kalau kamu cari refleksi tentang karier dan produktivitas, kamu bisa baca lengkap di Bundling 3 E-book Get Karier.
Download sekarang: lynk.id/getkarier
Kalau tulisan ini terasa dekat dengan kamu, subscribe newsletter Get Karier untuk refleksi seputar karier, hidup, dan hal-hal sederhana yang bikin kita tumbuh.
Salam hangat,
Rivaldy
Apa Yang Saya Pelajari Minggu Ini
How To Stay Motivated - The Locus Rule (Improvement Pill)
Motivasi itu bukan soal bakat, tapi soal seberapa besar kamu percaya kalau usaha bisa ngubah hasil. Di video ini, channel Improvement Pill ngebahas konsep locus of control lewat eksperimen simpel tapi mind-blowing. Buat kamu yang sering ngerasa stuck, tonton deh — bisa jadi perspektif baru yang kamu butuhin.



